✅ ESSAI; HUT Ke -22 Sulbar
Oleh Abdul Watif Waris
Dua puluh dua tahun lalu, Sulbar lahir bukan karena perintah satu orang. Ia lahir karena banyak orang — dari kampung ke kampung, dari forum ke forum — bersatu menyampaikan satu gagasan: kita pantas berdiri sendiri.
Saya turut menyampaikan gagasan itu melalui Tabloid Mandar Pos, media yang kami dirikan bukan untuk keuntungan pribadi, melainkan sebagai jembatan — agar setiap orang Mandar di mana pun berada, memahami, ikut merasakan, dan ikut memiliki cita-cita ini.
Kini, melihat HUT ke-22 berjalan tanpa Paripurna Istimewa yang diwajibkan Perda, hati terasa berat. Dulu aturan ditegakkan untuk menolak rakyat; kini aturan diabaikan demi keinginan sendiri. Mutasi yang merugikan ribuan ASN, kekosongan Wagub yang berlarut, hingga upacara yang memotong bagian dari prosedur — semua ini bukan sekadar kelalaian. Ini pola: aturan dipilih sesuai kebutuhan kekuasaan.
Sikap Golkar dan NasDem mengingatkan: masih ada yang memegang teguh aturan itu.
Kepada kawan-kawan seperjuangan: janganlah kita dijauhkan dari warisan yang kita bangun. Jangan biarkan anak-anak kita hanya belajar nama tempat di peta tanpa memahami nilai yang melahirkannya. Ajarkan mereka: Sulbar bukan milik siapa yang duduk paling depan, melainkan milik siapa yang menjaga janji paling teguh.
Saya menulis ini sebagai Partisipan Pembentukan Sulbar dan Pendiri Tabloid Mandar Pos. Saya tidak meminta tempat terhormat. Saya hanya meminta satu hal: jangan rusak peta yang kita lukis bersama.
Sulbar Mala’bi’ 💚
Penulis, Partisipan Pembentukan Sulbar • Pendiri Tabloid Mandar Pos








