Oleh: Zena Naya Zahirah
Satu minggu lalu, tepatnya Sabtu, 17 Januari 2026, aku naik gunung untuk pertama kalinya. Gunung yang aku daki adalah Gunung Sagara, yang terletak di Desa Tenjonagara, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut.
Awalnya aku merasa senang, tapi juga sedikit takut karena ini pertama kalinya aku mendaki gunung. Apalagi puncak gunung yang biasa digelari dengan “Rinjaninya Jawa Barat” ini berada di ketinggian 2.132 mdpl.
Dua hari sebelum berangkat, aku mulai menyiapkan perlengkapan. Tidak terlalu banyak. Aku dan teman-teman memang hanya akan tektokan, alias tidak nginap. Perjalanan mengejar terbitnya matahari di puncak gunung. Aku hanya menyiapkan sarung tangan, lampu kepala, jaket, kacamata dan sepatu untuk mendaki. Selebihnya adalah kebutuhan minimalis “penghalau” capek, seperti koyo dan lainnya.
Dua hari itu juga, aku menyiapkan fisik. Aku diminta untuk tidak terlalu capek dan harus tidur lebih awal. Karena kami berangkat dari Bandung jam 12 malam, siang sampai sore kami gunakan untuk tidur agar tidak mengantuk di jalan.
Namanya pemula. Kata banyak orang, kalau mau naik gunung harus olahraga. Entah jogging ataupun lari-lari kecil. Tidak mager dan hanya menghabiskan scroll-scroll media sosial sampai tengah malam.
Saat perjalanan menuju Garut, aku merasa tidak sabar ingin cepat sampai. Aku naik motor bersama teman-teman. Di perjalanan, temanku bercerita tentang pengalamannya mendaki Gunung Sagara tahun lalu. Kami juga berdoa semoga nanti di puncak cuacanya cerah. Iya dong, target aku adalah melihat mentari pagi dari timur.
Kami melewati jalur Nagreg dan sampai di basecamp sekitar jam 2 pagi. Di sana aku belajar menyiapkan barang sendiri, memilih mana yang harus dibawa ke atas dan mana yang dititipkan. Setelah itu kami foto sebentar di gerbang, lalu mulai mendaki. Oh iya, kami juga tak lupa melapor kepada penjaga basecamp Gunung Sagara.
Sekira jam 4 pagi, pendakian dimulai. Jalan menuju Pos 1 masih bisa aku lewati walaupun capek. Udara belum terlalu dingin. Di Pos 1 kami hanya istirahat sebentar karena ingin melihat matahari terbit dari puncak.
Kami sampai di Pos 2 sekitar jam 05.12. Di sana ada mata air, jadi aku bisa mengisi ulang air minum. Banyak pendaki lain yang juga beristirahat. Setelah sekitar 20 menit, kami melanjutkan perjalanan.
Saat sampai di Pos 3, langit sudah mulai terang. Aku istirahat sebentar dan makan snack. Setelah itu, perjalanan terasa semakin berat. Jalan dari Pos 3 ke puncak semuanya menanjak dan penuh akar. Kakiku terasa lelah sekali. Rasanya seperti dagu hampir menyentuh lutut.

Akhirnya jam 07.30 pagi aku sampai di puncak. Aku sangat senang dan bangga. Dari atas, aku bisa melihat pemandangan yang sangat indah dan Talaga Bodas dari kejauhan. Di puncak, kami makan Pop Mie dan beristirahat cukup lama. Pop Mie di puncak terasa sangat enak.
Sekitar jam 10 pagi kami mulai turun. Perjalanan turun pun tidak kalah menantang. Otot kaki mulai gemetar dan fokus harus tetap dijaga agar tidak terpeleset. Ternyata, turun gunung itu jauh lebih menyiksa lutut daripada saat naik. Namun, setiap langkah turun membawa cerita yang berbeda. Saya jadi lebih menghargai setiap tegukan air minum dan setiap jalanan rata yang saya temui.
Akhirnya, pendakian pertama ini tuntas. Ketinggian pertama sukses aku tapaki. Gunung Sagara memberikan banyak pelajaran: tentang sabar, tentang kerja sama, dan tentang batas kemampuan diri yang ternyata jauh lebih besar dari yang saya duga. Sekarang, kalau ada yang tanya “Kapan naik gunung lagi?”, saya tidak akan ragu untuk menjawab, “Yuk, berangkat!”
Ini adalah pendakian pertamaku. Aku capek, tapi aku senang dan bangga karena bisa sampai ke puncak. Suatu hari nanti, aku ingin mendaki gunung yang lebih tinggi lagi.(*)












