Mengenang Jenderal Salim Sayyid Mengga: Jujur, Tegas dan Mengayomi

Oleh Muhammad Zain

(Ketua Umum BPP KKMSB Sulbar 2024-2029)

Pagi itu, saat membuka ponsel, pesan dari Adinda Zulkifli, Penghubung Pemda Sulbar, menyapa: Jenazah Almarhum Mayjen TNI (Purn) Salim S. Mengga akan disemayamkan di rumah putri sulungnya, Jl. Taman Cilandak 4 No. 26, Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Beberapa menit sebelumnya, beliau wafat di Rumah Sakit Siloam, Makassar.

Saya terkejut, segera menelepon Dinda Zul untuk memastikan, lalu Dinda Rio Salim, menantu beliau. Semuanya membenarkan: tokoh nasional yang dikenal jujur, tegas, tapi bijaksana telah pulang.

Saya mengenal Jenderal Salim sejak masa kuliah di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Aktivis pergerakan dan reformasi dari Semarang serta Yogya sering bercerita tentangnya: seorang perwira TNI yang teguh pendirian, berani menegakkan kebenaran. Beliau dekat dengan ulama NU, seperti Kyai Sahal Mahfudz ( Rais Am PBNU) dari Pati dan Kyai Cholil Bisri dari Rembang.

Tak heran, Jenderal Salim menguasai ilmu agama hingga mampu khutbah Jumat tanpa teks. Saya saksikan sendiri saat saya menjabat Pj Bupati Mamasa tahun 2024 di Masjid Agung Mamasa. Beliau berwasiat tentang tata kelola pemerintahan yang bersih, dan jujur mengutip ketegasan Umar bin Khattab yang peduli pada rakyat miskin.Orang Mandar, termasuk di Mamasa, Nosu, dan Pana, begitu akrab dengannya—putra Sayyid Mengga, bupati Polewali Mamasa yang dulu merintis jalan-jalan perintis.

Baca Juga  REKONSTRUKSI PERAN PEREMPUAN dalam ISLAM AWAL: Membaca Sejarah Nabi dan Realitas Perempuan Mandar

Pertemuan personal dimulai saat beliau sering silaturahmi dengan Abah H. Alimuddin Lidda di Jalan Cumi-Cumi, Polewali. Setiap kali ke Mandar, beliau menyempatkan diskusi tentang isu sosial-keagamaan, pendidikan, politik nasional, dan lokal—terutama saat mencalonkan diri sebagai Gubernur Sulawesi Barat. Saya biasa jadi pendengar setia ( mustami’), sesekali menyela untuk meramaikan.

Pisang goreng dan kue Mandar melengkapi suasana hangat diskusi tersebut. Keduanya mengusung politik etis: bermartabat, mengedepankan moral di tengah maraknya money politics—“democracy for sale” atau “wani piro” yang merajalela.

Bagi Pak Jenderal, politik adalah pengabdian, bukan menghalalkan segala cara demi kekuasaan. Alhamdulillah, berpasangan dengan Suhardi Duka, beliau dilantik Jenderal Prabowo Subianto sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Barat 2025-2030.

Baca Juga  PUASA: Jalan Mendekatkan Diri kepada Tuhan

Yang spesial, setiap bertemu, beliau selalu bertanya kabar Abbamu dan Ummi—bahkan menyempatkan singgah ke rumah Cumi-Cumi. Beliau biasa berkelakar soal kesehatan bagi orang tua. Di acara KKMSB dan Pemda Sulbar di Hotel Borobudur yang lalu, setelah sambutan memukau beliau, saya berbisik: “Pak Wagub, pidato Bapak mengena di tengah gaduh politik nasional.” Lalu, beliau menjawab seloroh khas Mandar: “Da’ simata mu palece’a. Apa baler’ a manini?” Begitu katanya. Sungguh sosok Mandar yang teduh dan mengayomi. Semua tertawa lepas mendengarnya. Tak ada jarak antara jenderal, wakil gubernur, dan rakyat biasa—beliau seperti ayah yang merangkul.

Dalam sambutan sebagai Ketua KKMSB, saya kutip H. Husni Djamaluddin tentang siri’ bagiborang Mandar: rasa malu yang bertingkat—siri’ biasa, mi siri’-siri’ yang pantas dijadikan sifat, hingga lokko’, malu di atas segalanya, bahkan nyawa pun dipertaruhkan. Siri’ ini selaras dengan hadis Nabi SAW: al-haya’ min al-iman.

Jenderal Salim telah menginternalisasi nilai luhur itu dalam ucapan dan tindakan. Tak heran, dari masa TNI aktif hingga purnabhakti, beliau disegani, menjadi rujukan bagi diaspora Mandar di nusantara.Terakhir, pada saat audensi dengan Menteri Agama RI, Prof Nasaruddin Umar, pak Jenderal bercita-cita untuk menghadirkan MAN Insan Cendekia di Majene dan Madrasah Unggulan di Mandar.

Baca Juga  Wakil Gubernur Sulawesi Barat Meninggal di Makassar

Beliau sangat sadar bahwa untuk memajukan daerah dimulai dengan mencetak SDM yang unggul lewat pendidikan yang berkualitas. Semoga cita-cita ini bisa terwujud dalam waktu dekat.

Semoga husnul khatimah, Pak Jenderal. Jejak langkah dan kiprah beliau jadi teladan abadi. Seperti kata Jalaluddin Rumi: “Bila aku mati, jangan cari aku di pusara, tapi di hati para kekasih.

”Wa Allah a’lam bi al-Shawab.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *