Bikang, Jajanan Tradisional yang Menemukan Kesempurnaannya di Pori-Pori

Bikang, Jajanan tradisional khas Mandar. (Foto: Nia_Majene)

Kisaran, – Asap tipis mengepul pelan dari tungku sederhana. Bau kayu terbakar bercampur aroma adonan tepung beras yang mulai matang. Di atasnya, sebuah tembikar tanah liat memanas perlahan—bukan dengan kompor, melainkan api kayu dan sabut kelapa, cara lama yang masih setia dipertahankan.

Di sinilah kue tradisional khas Mandar itu dibuat. Bentuknya pipih dan tipis, nyaris sederhana. Namun jangan tertipu. Di balik tampilannya, kue ini menyimpan satu rahasia penting: rongga.

Bagi para pembuatnya, rongga bukan sekadar lubang-lubang kecil di permukaan kue. Rongga adalah penentu segalanya—penanda keberhasilan, ukuran keahlian, sekaligus kunci kenikmatan.

Bikang, siraman gula aren dan kopi. (Foto: Zeena.R)

Adonan berbahan dasar tepung beras dituangkan tipis-tipis ke tembikar panas, lalu ditutup. Api kayu dibiarkan bekerja perlahan. Tidak tergesa. Dari situlah rongga mulai muncul satu per satu, seperti pori-pori yang bernapas. Semakin merata dan banyak rongga yang terbentuk, semakin sempurna kuenya.

Baca Juga  Jepa: Roti Pipih Penjaga Nafas Pelaut Mandar di Samudra

Sekilas, kue ini mengingatkan pada surabi khas Bandung. Namun perbedaannya jelas terasa. Jika surabi Bandung cenderung tebal dan padat, kue Mandar ini justru ringan, tipis, dan penuh rongga. Teksturnya dibuat memang untuk satu tujuan: menyambut gula aren.

Karena puncak dari kue ini bukan saat diangkat dari tembikar, melainkan ketika gula aren cair disiramkan di atasnya. Gula berwarna cokelat gelap itu mengalir perlahan, lalu menghilang, menyusup hingga ke dalam rongga-rongga kue.

“Di situlah nikmatnya. Gulanya tidak cuma di atas, tapi masuk sampai ke dalam,” kata Nia, pembuat bikang di Mandar.

Proses produksi bikang. (Foto: Zeena.R)

Api kayu maupun sabut kelapa memberi peran penting. Panasnya lebih lembut dan stabil, sekaligus meninggalkan aroma asap tipis yang khas. Bagi mereka yang terbiasa, aroma inilah yang membuat rasa kue berbeda.

Baca Juga  Mewahnya Rasa Bau Peapi, Warisan Dapur Pesisir Mandar

Di tengah gempuran jajanan modern, kue ini tetap bertahan dengan caranya sendiri. Tanpa topping berlebihan, tanpa kemasan mencolok. Hanya adonan sederhana, api tradisional, rongga yang sempurna, dan siraman gula aren yang jujur.

Di Mandar, kue ini bukan sekadar jajanan. Ia adalah pelajaran tentang kesabaran, tentang memahami api, adonan, dan waktu. Dan tentang bagaimana sesuatu yang tampak berlubang justru menjadi tempat terbaik bagi rasa untuk menetap.

Pada akhirnya, kue ini mengajarkan satu hal sederhana, bahwa dalam rongga-rongga kecil itulah rasa menemukan jalannya dan dijaga oleh tangan-tangan yang setia pada cara lama. Dari api kayu, tembikar, dan rongga-rongga kecil itulah, kue tradisional Mandar ini membuktikan bahwa rasa terbaik sering lahir dari kesederhanaan yang dijaga.

Baca Juga  Buah Kelor, Pangan Lokal yang Lezat, Bergizi, dan Mudah Diolah

Sekilas Bahan Resep Kue Tradisional Berpori Khas Mandar
Tepung beras, air, parutan kelapa atau santan, sedikit garam, gula merah, daun pandan.

Cara singkat:
Adonan diencerkan. Dituang tipis di tembikar panas, dibakar dengan api kayu atau sabut kelapa, hingga rongga muncul merata. Disajikan hangat dengan siraman gula aren cair.

Catatan:
Semakin berongga kuenya, semakin sempurna rasanya—karena di situlah gula aren menemukan jalannya(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *