Oleh: Asriaty Alda Zain
Setiap kelahiran selalu membawa kebahagiaan. Tangis pertama seorang bayi menandai dimulainya kehidupan baru yang penuh harapan. Di tengah suka cita itu, umat Islam mengenal satu tradisi penuh makna AKIKAH.
Namun tahukah kita, bahwa akikah bukanlah hal baru yang lahir bersama Islam? Tradisi ini sudah dikenal jauh sebelum Nabi Muhammad Saw diutus.
Jejak Akikah di Masa Lalu
Bangsa Arab sebelum Islam (masa jahiliyah) sudah memiliki berbagai upacara untuk menyambut kelahiran anak, terutama anak laki-laki. Mereka menyembelih kambing, lalu darahnya dioleskan di kepala bayi sebagai bentuk “penebusan”.
Tradisi itu ternyata juga ditemukan dalam ajaran Yahudi dan Kristen. Dalam Alkitab disebutkan bahwa anak yang lahir pertama harus ditebus dengan seekor domba. Artinya, konsep persembahan sebagai ungkapan syukur dan penebusan dosa sudah dikenal dalam ajaran para nabi sebelumnya.
Nabi Muhammad Datang Menyempurnakan
Ketika Islam datang, Nabi Muhammad Saw tidak menghapus tradisi akikah, beliau menyempurnakannya.
Darah yang dulu dilumurkan di kepala bayi diganti dengan minyak wangi, dan rambut bayi dicukur pada hari ketujuh kelahiran.
Mengapa harus minyak wangi?
Karena Islam datang membawa kebersihan dan kasih sayang. Secara ilmiah, darah adalah sumber bakteri dan penyakit. Nabi menggantinya dengan sesuatu yang suci, bersih, dan harum simbol doa agar sang bayi tumbuh dalam kebaikan.
Perempuan yang Diangkat Martabatnya
Pada masa jahiliyah, hanya anak laki-laki yang dirayakan. Anak perempuan bahkan dianggap beban. Namun Islam menghapus pandangan itu. Nabi menegaskan bahwa kelahiran anak perempuan pun pantas dirayakan dengan akikah.
Inilah salah satu tanda betapa Islam meninggikan martabat perempuan bahwa mereka hadir bukan sebagai beban, melainkan berkah.
Hukum dan Waktu Akikah
Para ulama memiliki pandangan berbeda tentang hukum akikah:
- Jumhur ulama menyebutnya sunnah.
- Sayyid Sabiq ( penulis Kitab Fiqh al-Sunnah) menyebutnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan).
- Abu Hanifah menyebutnya mubah (boleh dilakukan atau tidak).
Perbedaan ini muncul karena cara memahami hadis Nabi Saw yang menyebutkan:
“Barang siapa yang memiliki anak dan ingin berkurban untuknya, maka hendaklah ia lakukan.”
(HR. Abu Dawud)
Akikah biasanya dilakukan pada hari ketujuh setelah kelahiran, sebagaimana Nabi mengakikahkan cucunya, Hasan dan Husain. Namun sebagian ulama, seperti dari mazhab Syafi‘iyyah, membolehkan dilakukan pada hari ke-14, ke-21, atau sebelum anak baligh.
Bagaimana Jika Anak Sudah Meninggal?
Imam Nawawi dalam Kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab mencatat dua pendapat ulama. Pertama, akikah tetap disunnahkan meskipun anak sudah meninggal. Kedua, akikah gugur karena anak telah meninggal.
Sebagian besar ulama berpendapat bahwa kelahiran tetap menjadi sebab akikah, dan bahkan ada riwayat yang menyebutkan bahwa anak yang diaqiqahkan bisa memberi syafa’at kepada orang tuanya di akhirat.
Lebih dari Sekadar Tradisi
Akikah bukan hanya penyembelihan hewan atau pesta syukuran. Ia adalah bentuk penghormatan terhadap kehidupan dan pengingat bahwa setiap anak lahir membawa amanah besar.
Tradisi ini juga menjadi bukti bahwa Islam bukan agama yang memutus masa lalu, tetapi menyempurnakannya. Nabi Muhammad Saw hadir sebagai penerus risalah tauhid yang dibawa para nabi terdahulu Ibrahim, Musa, dan Isa ‘alaihimsalam.
Sebagaimana disebut dalam kitab suci terdahulu, kehadiran Nabi Muhammad telah lama dijanjikan untuk menyempurnakan ajaran para rasul. Termasuk menyempurnakan makna-makna ibadah yang sarat simbol seperti akikah ini.
Dan di balik kesederhanaannya, akikah mengajarkan tentang syukur, kesucian, dan kasih sayang, tiga hal yang menjadi inti kehidupan seorang Muslim.
❤️Allahmumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama shallayta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid ❤️
Wallahu a‘lam. 🌷












