Berita  

Ryan Latief Luruskan Sejarah Penemuan Nikel Luwu Timur

Rogier Diederik Marius (R.D.M.) Verbeek

Kisaran, – Sejarah kekayaan nikel di Tanah Luwu, khususnya di wilayah Luwu Timur, berawal dari ekspedisi geologi yang dilakukan pada masa Hindia Belanda. Hal itu disampaikan Tokoh Lembaga Adat Pasukan Adat To Manurung, Ryan Latief La Kaseng, yang mengulas kembali jejak awal eksplorasi mineral di kawasan tersebut.

Ryan mengatakan masih banyak masyarakat yang keliru menyebut nama tokoh yang berperan dalam pemetaan geologi di Luwu Timur. Menurutnya, nama yang kerap dilafalkan sebagai “Van Fer Back” sebenarnya merujuk kepada Rogier Diederik Marius (R.D.M.) Verbeek, seorang ahli geologi dan ilmuwan alam asal Belanda yang berkiprah pada masa Hindia Belanda.

“Di masyarakat sering terdengar pelafalan ‘Van Fer Back’ karena kemiripan lisan. Padahal, nama yang benar adalah R.D.M. Verbeek,” ujar Ryan.

Baca Juga  Jusuf Kalla Tekankan Peran Masjid Jaga Lingkungan dan Kesejahteraan Umat

Ia menjelaskan, pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda melakukan pemetaan geologi dan topografi di Pulau Sulawesi untuk menginventarisasi potensi sumber daya alam, termasuk mineral yang memiliki nilai ekonomi.

Ekspedisi tersebut menjangkau pedalaman Tanah Luwu, terutama kawasan yang kini menjadi wilayah Kabupaten Luwu Timur, seperti Malili dan Sorowako. Meski memiliki medan yang berat, wilayah tersebut menarik perhatian para ilmuwan karena karakteristik geologinya yang dinilai unik.

Sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya dalam pemetaan geologi Hindia Belanda, nama Verbeek kemudian diabadikan menjadi Pegunungan Verbeek. Gugusan pegunungan itu membentang di bagian timur Tanah Luwu dan menjadi batas alam antara Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

Baca Juga  Tokoh Adat Ingatkan Potensi Dampak Lingkungan Pembangunan Kawasan Industri Nikel IHIP di Luwu Timur

Ryan menuturkan, penelitian di kawasan Pegunungan Verbeek kemudian dilanjutkan oleh geolog Belanda lainnya, E.C. Abendanon, pada periode 1909–1910. Penelitian tersebut berhasil mengidentifikasi formasi batuan ultrabasa yang telah mengalami pelapukan selama ribuan tahun hingga membentuk endapan bijih besi dan nikel laterit dalam jumlah besar.

Menurut Ryan, hasil penelitian para geolog tersebut menjadi fondasi penting bagi perkembangan industri pertambangan nikel di Luwu Timur.

“Kedatangan Verbeek dan para geolog Belanda ke Tanah Luwu bukan merupakan ekspedisi militer atau penaklukan politik, melainkan ekspedisi ilmiah untuk penelitian geologi dan pertambangan. Laporan mereka kemudian menjadi cikal bakal masuknya investasi tambang nikel di Sorowako pada 1968 oleh PT INCO yang kini dikenal sebagai PT Vale Indonesia,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *