Oleh : Asriaty Alda Zain
(Ketua Umum BPP-KWMSB)
Puasa sesungguhnya telah dikenal jauh sebelum Islam hadir. Secara etimologis, istilah puasa berasal dari bahasa Sanskerta, yakni Upa yang berarti “dekat” dan Wasa yang bermakna “Tuhan Yang Maha Esa”. Dengan demikian, puasa dapat dipahami sebagai ikhtiar spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Puasa dipraktekkan hampir seluruh agama. Tujuannya relatif sama, yakni penyucian jiwa, pengendalian diri, ketenangan batin, serta penguatan hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Puasa dalam Islam, merupakan kewajiban sebagaimana tertuang dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat ini sejalan dengan firman Allah dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 13 yang menegaskan bahwa ukuran kemuliaan manusia di sisi Allah adalah ketakwaan. Dengan demikian, tujuan akhir puasa adalah takwa, sebuah derajat spiritual yang penilaiannya sepenuhnya berada dalam otoritas Tuhan.
Puasa dalam Berbagai Agama
Meskipun memiliki tujuan spiritual yang serupa, praktik puasa di setiap agama dijalankan dengan tata cara yang berbeda.
- Agama Buddha
Puasa dilakukan melalui praktik Upavasa dengan mematuhi delapan sila, di antaranya tidak membunuh, tidak mencuri, tidak melakukan hubungan seksual, tidak berbohong, serta tidak makan setelah tengah hari hingga subuh. Bagi para bhikkhu, praktik ini berlaku seumur hidup, sedangkan umat awam menjalankannya secara berkala, umumnya dua kali dalam sebulan. Terdapat pula praktik puasa vegetarian. - Agama Hindu
Puasa dikenal beberapa jenis, seperti Siwaratri (tidak makan dan minum dari terbit hingga terbenam matahari), puasa Nyepi, serta puasa Purnama–Tilem yang dijalankan dari fajar hingga fajar keesokan harinya. Puasa dipahami sebagai sarana pengendalian diri dan penyucian batin. - Kristen Katolik
Puasa berkaitan erat dengan pertobatan dan pengendalian diri, khususnya pada masa Prapaskah dan Jumat Agung. Lama puasa bervariasi, mulai dari beberapa jam hingga 40 hari, disesuaikan dengan kemampuan dan komitmen individu. - Kristen Protestan
Puasa tidak bersifat wajib, tetapi dianjurkan sebagai wujud ketulusan hati dan pembaruan spiritual. Bentuknya meliputi puasa biasa (tidak makan tetapi boleh minum), puasa penuh (tidak makan dan minum), serta puasa sebagian dengan membatasi jenis makanan tertentu. - Agama Yahudi
Puasa dijalankan dalam konteks persiapan ibadah, masa berkabung, dan pertobatan. Puasa yang paling utama adalah Yom Kippur (Hari Pendamaian), yang dilaksanakan selama satu hari penuh setiap tahun. - Tradisi Mesir Kuno
Dalam peradaban Mesir Kuno, para pendeta berpuasa ketika menerima pesan ilahi, sementara masyarakat umum melakukannya untuk tujuan spiritual dan penguatan batin.
Puasa dalam Islam
Kata Ramadhan berasal dari ar-ramdhā’ yang berarti panas atau membakar. Puasa Ramadhan pertama kali diwajibkan pada masa ketika suhu Jazirah Arab sangat terik. Makna “membakar” di sini bukan hanya panas musim, tetapi juga pembakaran hawa nafsu serta proses penyucian jiwa.
Selain puasa wajib Ramadhan, Islam juga mengenal puasa sunnah, seperti puasa Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, puasa Arafah, puasa Asyura, dan lainnya.
Rasulullah SAW bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.”
Hadis ini menjadi pengingat bahwa puasa tidak sekadar menahan makan dan minum, melainkan juga menahan diri dari perkataan buruk, sikap kasar, serta sifat iri, dengki, dan sombong, termasuk segala perbuatan yang merugikan orang lain.
Puasa adalah perjalanan menuju kesucian hati. Ia merupakan latihan spiritual untuk menata diri, memperhalus rasa, dan membuka ruang kedekatan dengan Tuhan.
Wallāhu a‘lam. 🌷












