Mengenal Tallopannyu: “Mochi” Khas Mandar yang Hadir di Bandung

Ini bukan mochi. Tapi Tallopannyu, jajanan khas dari Suku Mandar, Sulawesi Barat. (Foto: Zeena.R)

Kisaran, – Apa yang terbersit di benakmu ketika menyebut atau mendengar nama Kota Bandung. Mungkin tidak jauh-jauh dari kata belanja, liburan dan makan-makan.

Bandung memang tak pernah kehabisan cerita soal kuliner. Dan setiap waktu, selalu saja bermunculan kuliner maupun jajanan yang baru, unik dan lain dari yang lain.

Nah, jajanan kali ini bukan berasal dari mancanegara, melainkan dari tanah Mandar, Sulawesi Barat. Namanya adalah Tallopannyu.

Secara harfiah berarti “Telur Penyu”. Namun bukan telur penyu betulan dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan hasil laut.

Tallopannyu adalah kudapan basah berbahan ketan yang memiliki tekstur kenyal dan lembut. Kudapan ini sekilas mirip mochi Sukabumi maupun Cianjur. Namun ini berbeda dengan kearifan lokal yang kental.

Kehadiran Tallopannyu di Bandung tentu menjadi jembatan bagi warga lokal untuk mengenal lebih dekat kekayaan rasa dari Sulawesi Barat. Bentuknya yang bulat polos menyerupai telur penyu menjadi daya tarik tersendiri, namun kejutan sebenarnya terletak pada isian dalamnya yang disebut Ritti (istilah Bahasa Mandar).

Bagi orang Sunda, isian ini mungkin terdengar akrab karena mirip dengan Enten, atau Unti dalam budaya Bugis. Namun, Ritti khas Mandar memiliki rahasia tersendiri. Isian ini terbuat dari gula aren murni yang diaron bersama parutan kelapa mengkal—kelapa yang tidak terlalu tua namun tidak terlalu muda. Hasilnya adalah isian yang legit, gurih, dan memiliki aroma alami yang sangat kuat.

Baca Juga  Jepa: Roti Pipih Penjaga Nafas Pelaut Mandar di Samudra

Proses pembuatan Tallopannyu ini pun sangat unik karena tidak melibatkan proses penggorengan sama sekali. Setelah Ritti dibalut dengan adonan ketan putih yang elastis, bulatan-bulatan ini kemudian dimasak dengan cara direbus. Tanda bahwa Tallopannyu telah matang sempurna adalah ketika bulatan tersebut mulai mengapung ke permukaan air. Setelah diangkat dan didiamkan beberapa saat, proses terakhir yang menjadi ciri khasnya adalah taburan tepung beras yang telah disangrai sebagai lapisan paling luar agar tidak lengket dan memberikan aroma smoky yang khas.

Untuk pengalaman rasa yang maksimal, Tallopannyu sangat pas dijadikan teman camilan yang dipadukan dengan teh hangat atau kopi tanpa gula. Mengapa demikian? Karena manis alami yang berasal dari gula aren di dalam Tallopannyu sudah cukup kuat dan dominan. Pahitnya kopi atau teh tawar akan menyeimbangkan rasa legitnya, menciptakan harmoni rasa yang sempurna di setiap gigitan.

Hadirnya Tallopannyu di Bandung bukan sekadar soal bisnis kuliner, melainkan juga bentuk diplomasi budaya dari para perantau Mandar. Meskipun masyarakat Bandung sudah akrab dengan olahan ketan, mencicipi Tallopannyu memberikan perspektif baru tentang bagaimana bahan serupa diolah dengan teknik tradisional Sulawesi Barat yang autentik. Ini adalah bukti bahwa kekayaan kuliner Nusantara selalu memiliki tempat spesial untuk dibagikan.

Baca Juga  Bikang, Jajanan Tradisional yang Menemukan Kesempurnaannya di Pori-Pori

Kini, warga Bandung tidak perlu terbang jauh ke Sulawesi untuk mencicipi si “Mochi Mandar” ini. Mencari Tallopannyu di tengah riuhnya kuliner modern Bandung adalah sebuah petualangan rasa yang patut dicoba. Bagi Anda pecinta kudapan kenyal, lembut, dan kaya akan rasa gula aren, Tallopannyu adalah jawaban yang wajib masuk dalam daftar buruan kuliner minggu ini.

Semua yang Perlu Kamu Tahu Tentang Tallopannyu

1. Apakah Tallopannyu benar-benar terbuat dari telur penyu?
Sama sekali tidak. Nama “Tallopannyu” diambil karena bentuk fisiknya yang bulat putih mulus menyerupai telur penyu. Bahan utamanya 100% nabati, yaitu tepung ketan dan gula aren.

2. Apa bedanya Tallopannyu dengan Mochi Jepang?
Meski teksturnya sama-sama kenyal dan lembut, Tallopannyu menggunakan isian tradisional bernama Ritti (campuran gula aren dan kelapa mengkal) dan lapisan luarnya menggunakan tepung beras sangrai, bukan tepung maizena atau bubuk kakao.

3. Apa perbedaan isian Ritti dengan Enten-enten/Unti?
Secara konsep hampir sama, namun Ritti khas Mandar menggunakan kelapa mengkal (tidak terlalu tua) yang diaron dengan gula aren murni, sehingga teksturnya lebih lembut dan aromanya lebih kuat karena kualitas gula aren Sulawesi yang khas.

Baca Juga  Buah Kelor, Pangan Lokal yang Lezat, Bergizi, dan Mudah Diolah

4. Mengapa Tallopannyu dianggap lebih sehat dari camilan gorengan?
Karena proses pematangannya dilakukan dengan cara direbus, bukan digoreng. Jadi, kudapan ini bebas minyak dan lemak jenuh, sangat cocok bagi Anda yang sedang mengurangi gorengan.

5. Bagaimana cara terbaik menikmati Tallopannyu?
Sangat direkomendasikan dinikmati bersama teh hangat atau kopi hitam tanpa gula. Rasa pahit dari minuman akan menyeimbangkan rasa manis legit dari isian gula aren di dalam kue.

6. Apakah Tallopannyu tahan lama?
Karena teksturnya yang lembut seperti mochi dan tidak menggunakan pengawet, Tallopannyu paling nikmat disantap di hari yang sama saat dibuat. Jika disimpan, pastikan dalam wadah kedap udara agar kulit ketannya tidak mengeras.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *