Kisaran, – Di balik deru ombak Selat Makassar dan ketangguhan perahu Sandeq yang melegenda, tersimpan satu rahasia dapur yang telah bertahan selama berabad-abad. Ia bukan sekadar makanan, melainkan simbol ketahanan pangan dan identitas budaya masyarakat Mandar, Sulawesi Barat. Namanya adalah Jepa.
Sekilas, bentuknya menyerupai tortilla atau roti pipih dengan warna putih kecokelatan. Namun, Jepa memiliki karakter yang jauh lebih kuat. Terbuat dari parutan singkong dan kelapa, Jepa lahir dari kearifan lokal dalam mengolah hasil bumi menjadi sesuatu yang awet dan mengenyangkan.
Aroma Tungku yang Tak Tergantikan
Keunikan Jepa terletak pada proses pembuatannya yang masih sangat tradisional. Menggunakan Panjepangan—piringan tanah liat yang dibakar di atas tungku kayu—parutan singkong diperas hingga kering lalu dipanggang di sela dua piringan panas tersebut.
“Aroma kayu bakar dan sentuhan tanah liat inilah yang memberikan rasa smoky yang khas. Jepa yang otentik tidak bisa dimasak di atas teflon modern,” ujar salah satu pengrajin Jepa di pesisir Majene.
Bekal Para Penjelajah Samudra
Sejarah mencatat bahwa Jepa adalah “sahabat setia” para pelaut Mandar. Sifatnya yang kering membuat makanan ini mampu bertahan hingga berbulan-bulan tanpa bahan pengawet. Di masa lalu, ketika para pelaut harus mengarungi lautan luas, Jepa menjadi sumber karbohidrat utama yang praktis dibawa di dalam palka kapal.
Cukup dipadukan dengan Bau Piapi (ikan masak kuah kuning asam), Jepa menjelma menjadi hidangan mewah di tengah laut yang mampu memulihkan tenaga para pelindung tradisi bahari.
Menembus Zaman
Meski kini nasi menjadi makanan pokok dominan, Jepa menolak untuk punah. Di pasar-pasar tradisional hingga festival budaya, Jepa tetap menjadi primadona. Di era modern ini, Jepa mulai naik kelas menjadi kuliner khas yang dicari wisatawan, membuktikan bahwa makanan sederhana dari singkong ini memiliki tempat spesial di hati masyarakat.
Bagi warga Mandar, memakan Jepa bukan hanya soal mengenyangkan perut, tapi tentang merawat ingatan akan akar budaya dan ketangguhan nenek moyang mereka di masa lalu.
Seni Mencetak Jepa di Atas Api
Proses pembuatan Jepa adalah perpaduan antara kesabaran dan ketangkasan tangan. Bagi masyarakat Mandar, membuat Jepa adalah ritual harian yang melibatkan elemen alam: tanah, kayu, dan hasil bumi. Berikut adalah tahapannya:
Persiapan Ubi Kayu:
Singkong (ubi kayu) dikupas dan diparut halus. Hasil parutan ini kemudian diperas menggunakan kain kuat atau alat pemeras tradisional hingga kadar airnya benar-benar hilang, menyisakan butiran singkong kering yang disebut galepu.
Sentuhan Kelapa:
Untuk rasa yang lebih gurih, galepu biasanya dicampur dengan parutan kelapa muda. Perpaduan ini menciptakan keseimbangan antara rasa manis alami singkong dan lemak nabati dari kelapa.
Memanaskan Panjepangan:
Penjual Jepa menggunakan dua piringan tanah liat bernama Panjepangan. Piringan ini dibakar di atas tungku hingga mencapai suhu yang pas. Tanpa minyak, tanpa mentega.
Pencetakan Pipih:
Adonan singkong ditaburkan secara merata di atas piringan pertama, lalu ditutup dengan piringan kedua yang juga panas. Teknik “menjepit” inilah yang membuat Jepa berbentuk bulat sempurna dan pipih.
Matang dalam Hitungan Menit:
Hanya butuh waktu sekitar 3-5 menit hingga Jepa berubah warna menjadi putih kecokelatan dengan tekstur bagian luar yang sedikit renyah namun tetap kenyal di dalam.
Jadi, sudahkah anda menikmati jepa hari ini…? Sebab “Menikmati selembar Jepa hangat saat matahari terbenam di pesisir Sulawesi Barat, dengan cocolan kuah kuning Bau Piapi yang pedas-asam, adalah cara terbaik merayakan kekayaan rasa Nusantara.”









setelah diparut dan diperas hingga airnya habis bagaimana mengatasinya agar micro nutrisinya tidak hilang bersama air perasan.
Sepertinya butuh kajian konfrehenri sisi Gizi dan kesehatan neh Pak.. Saya terus terang belum sampai ke sana… tabiq…