Oleh: Asriaty Alda Zain
(Ketua Umum BPP-KWMSB)
Sering kali Islam dipahami semata sebagai identitas agama formal. Sehingga, sebagian orang beragama secara rigid dan terkesan formalistik. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam melalui Al-Qur’an dan sejarah kenabian, Islam pada hakikatnya adalah sikap batin: kepasrahan total manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Syariat hadir dalam bentuk aturan dan tata cara ibadah. Setiap Nabi membawa syariat yang berbeda, disesuaikan dengan kondisi umat dan zamannya. Meski demikian, substansi ajaran para Nabi tetap sama, yakni tauhid—mengakui keesaan Tuhan dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya. Sikap inilah yang disebut Islam.
Dalam buku: Islam, Doktrin dan Peradaban, Prof. Dr. Nurcholish Madjid menegaskan bahwa Islam lebih dahulu hadir sebagai sikap kepasrahan sebelum menjadi nama agama. Al-Qur’an menggambarkan; Nabi Nuh sebagai sosok yang telah menyadari dan menegaskan sikap pasrah tersebut, sebagaimana tertuang dalam Q.S. Yunus ayat 71–72.
Kesadaran Islam semakin tegas pada diri Nabi Ibrahim. Al-Qur’an menggambarkan bagaimana Ibrahim dengan penuh kesadaran menerima perintah untuk “ber-Islam”, yakni tunduk dan patuh hanya kepada kehendak Allah. Kepasrahan diwariskan sebagai wasiat kepada anak cucunya, termasuk Nabi Ya‘qub. Wasiat inilah yang kemudian menjadi fondasi spiritual bagi agama-agama Bani Israil (Yahudi dan Nasrani) sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 132.
Hal serupa juga tampak pada risalah Nabi Musa yang membawa Taurat bagi Bani Israil. Meski syariatnya memiliki karakter khusus, inti ajarannya tetap sama: tauhid dan ketaatan penuh kepada Allah.
Ini menunjukkan bahwa kepasrahan kepada Tuhan adalah ajaran universal para Nabi, sekaligus unsur mendasar dalam kemanusiaan.
Perbedaan penting antara risalah Nabi Muhammad SAW dan risalah para Nabi sebelumnya terletak pada penegasan Islam sebagai nama agama yang final dan universal. Jika sebelumnya Islam lebih hadir sebagai sikap dan nilai, maka melalui Al-Qur’an, Islam ditegaskan secara eksplisit sebagai identitas agama yang menyempurnakan ajaran-ajaran terdahulu dan berlaku universal. Islam rahmatan li al-‘alamin.
Dengan demikian, Islam bukanlah ajaran yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari proses panjang sejarah kenabian. Ia disampaikan dari satu Nabi ke Nabi berikutnya, mengalami penyempurnaan terutama dalam aspek syariat, namun tetap pada satu inti: tauhid dan kepasrahan total kepada Sang Pencipta.
Di sinilah makna menjadi seorang Muslim menemukan kedalamannya—bukan sekadar menjalankan ritual, tetapi menapaki jalan hidup yang penuh kesadaran, ketundukan kepada Allah SWT.
Wallahu a‘lam. 🙏🌷🌷












