Oleh: Hj. Dian Nurindah Sudirman Aseng
Wakil Ketua I BPP-KWMSB
Setelah rangkaian Pelantikan Pengurus Wilayah Kerukunan Wanita Mandar Sulawesi Barat (KWMSB) DI Yogyakarta–Jawa Tengah, rombongan BPP KWMSB melanjutkan agenda dengan melakukan kunjungan wisata edukatif ke sejumlah sentra UMKM dan kerajinan rakyat.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang rekreasi, tetapi juga sarana pembelajaran langsung dari para pelaku usaha lokal, khususnya ibu-ibu yang diberdayakan dalam kegiatan ekonomi kreatif.
- Rumah Produksi Rengginang
Destinasi pertama adalah rumah produksi rengginang. Rombongan melihat langsung proses pembuatan, mulai dari pengolahan bahan baku, pencetakan, hingga pengeringan.
Ibu-ibu setempat menjelaskan tahapan produksi secara singkat dan mempersilakan rombongan mencicipi hasilnya. Menariknya, dapur produksi masih menggunakan kayu bakar, mencerminkan usaha tradisional yang tetap produktif.
Usaha ini menjadi contoh nyata bagaimana UMKM mampu memberdayakan perempuan sekaligus membuka lapangan kerja di lingkungan sekitar.

- Produksi Mochi dan Dodol
Kunjungan berikutnya adalah tempat produksi mochi dan dodol. Karena keterbatasan waktu, rombongan hanya dapat melihat proses secara singkat.
Namun diketahui bahwa tempat ini juga menyediakan paket wisata edukasi bagi pengunjung yang ingin belajar langsung tentang proses produksi.
Hal ini menjadi peluang kerja sama ke depan, meskipun saat ini kontak usaha belum sempat diperoleh.
- Galeri Penjualan Produk
Setelah menyaksikan proses produksi, rombongan diarahkan ke galeri penjualan. Di sana, para pelaku usaha menjelaskan langsung berbagai produk olahan, seperti kerupuk udang, bawang, dan aneka camilan lainnya.
Interaksi langsung ini menunjukkan bahwa cerita di balik produk memiliki peran besar dalam meningkatkan daya tarik dan nilai jual.
- Refleksi dan Peluang Daerah
Kunjungan ini memberikan banyak pelajaran penting, di antaranya:
- Pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan, adalah kunci kemajuan.
- Kemasan (packaging) sangat menentukan nilai jual produk.
- Tampilan menarik dapat meningkatkan minat beli, meski produk sederhana.
Di beberapa negara seperti Thailand, makanan tradisional bisa tampak premium hanya karena kemasan kreatif—menggunakan rotan kecil, plastik bening, pita, dan label sederhana.
Hal ini menjadi refleksi bahwa daerah kita juga memiliki potensi besar, seperti:
- Olahan ikan
- Kerupuk kulit ikan
- Mochi lokal
- Produk khas Mandar
Semua potensi tersebut perlu dikemas secara kreatif dan dipasarkan dengan strategi yang tepat.
Sebagaimana disepakati dalam diskusi dengan rombongan pengurus pusat KWMSB, langkah awal yang penting adalah mendata potensi yang dimiliki, lalu mengembangkannya secara bersama-sama.
Perjalanan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari keberanian untuk mengolah potensi lokal dengan cara yang lebih kreatif dan modern.(*)


