Oleh: Ir. Hj. Michiko H Day MT
Wakil Ketua 2 BPP-KWMSB
Perjalanan ke Yogyakarta selama empat hari dalam rangka menghadiri Pelantikan Pengurus BPW-KWMSB Wilayah Jogja–Jateng memberikan banyak kesan, inspirasi, sekaligus pembelajaran berharga.
Yogyakarta dikenal sebagai salah satu tujuan wisata terfavorit di Indonesia setelah Bali. Keistimewaannya terletak pada kemampuan masyarakat dan pemerintahnya dalam terus berinovasi, tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal.
Pelayanan pariwisatanya terintegrasi dengan baik—mulai dari transportasi, destinasi, hingga promosi UMKM—sehingga membuat wisatawan merasa nyaman, betah, dan ingin kembali lagi. Hal ini tentu berdampak langsung pada perputaran ekonomi masyarakat setempat.

Salah satu contoh wisata yang sangat menarik adalah VW Safari Borobudur. Wisata ini menawarkan pengalaman unik menjelajahi pedesaan di sekitar Candi Borobudur dengan mobil VW klasik.
Sepanjang perjalanan, wisatawan disuguhi pemandangan sawah hijau, Perbukitan Menoreh, lanskap alam yang memesona, serta spot foto Instagramable. Tidak hanya itu, pengunjung juga diajak mengenal budaya lokal, mencicipi kuliner tradisional, dan mendapatkan edukasi singkat tentang peternakan lebah serta berbagai jenis madu.
Dalam rute tersebut, wisatawan diajak singgah di beberapa UMKM yang menjual makanan ringan dan jajanan lokal. Pengelola bahkan menyuguhkan makanan kecil dan minuman gratis (teh manis atau tawar) sebagai bentuk keramahan. Strategi ini terbukti sangat cerdas, karena membuat pengunjung merasa “sungkan” jika tidak membeli produk yang ditawarkan. Inilah bentuk pemasaran berbasis kearifan lokal yang efektif dan beretika.
Dari kunjungan ini, banyak pelajaran penting yang dapat diambil. KWMSB memiliki peran strategis untuk mendorong pengembangan daerah Sulawesi Barat dengan menyesuaikan potensi lokal dan kondisi masyarakat setempat. Sulawesi Barat dikenal memiliki pesona alam pesisir yang indah, kekayaan hasil bumi dan laut, serta budaya yang unik. Semua ini merupakan modal besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata terpadu.
Dengan memadukan wisata alam, budaya, dan kuliner lokal, serta mengangkat produk olahan khas daerah sebagai bagian dari pengalaman wisata, kita dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Kegiatan seperti ini tidak hanya memperkenalkan kearifan lokal, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat UMKM, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bagi organisasi KWMSB, kunjungan ini menjadi referensi nyata tentang bagaimana kolaborasi antara komunitas, UMKM, dan pariwisata dapat berjalan selaras. Ke depan, KWMSB dapat menjadi motor penggerak dalam membangun jejaring, mempromosikan potensi daerah, serta mendorong lahirnya inovasi wisata berbasis budaya di Sulawesi Barat.
Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi untuk terus bergerak, berinovasi, dan berkontribusi bagi kemajuan daerah dan organisasi yang kita cintai.(*)


