Kisaran, – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menyatakan keprihatinan mendalam atas memburuknya stabilitas politik internasional yang ditandai dengan meningkatnya rivalitas geopolitik negara-negara adidaya. Situasi ini dinilai membuka terjadinya Perang Dunia III yang dikhawatiekan akan membawa penderitaan luas bagi umat manusia, terutama bagi negara-negara berkembang.
Ketua DPP GMNI Bidang Hubungan Internasional, Cristian Viery Pagliuca, menilai, konflik global saat ini bukan lagi soal ideologi demi kemanusiaan, melainkan berakar pada imperialisme modern, perebutan sumber daya alam, serta kepentingan kapitalisme global.
“Konflik hari ini berakar pada imperialisme modern, perebutan sumber daya alam, serta kepentingan kapitalisme global. Negara-negara kuat menggunakan perang, sanksi ekonomi, dan intervensi politik hanya untuk mempertahankan hegemoninya, sementara rakyat dunia menjadi korban utama,” ujar Cristian dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 23 Januari 2026.
Fenomena ini dapat diamati melalui berbagai peristiwa dunia, mulai dari konflik Rusia-Ukraina, ketegangan di Amerika Latin, hingga perseteruan wilayah di berbagai kawasan yang menunjukkan pola perebutan pengaruh serupa. Menyikapi hal tersebut, GMNI mendorong Indonesia untuk kembali mengambil peran strategis sebagai pelopor Gerakan Non-Blok dan jembatan perdamaian dunia, terutama dalam keterlibatannya di kancah internasional.
“Jika dunia dipaksa memilih kubu, maka Indonesia harus memilih kedaulatan. Jika ‘perdamaian’ hanya dijadikan alat dominasi oleh negara adidaya, maka melawannya adalah sikap politik yang sah. Indonesia harus kembali menjadi pelopor Gerakan Non-Blok yang menjembatani perdamaian dunia,” tegas Cristian.
GMNI pun mendesak Pemerintah Indonesia agar tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas-aktif tanpa terseret dalam blok kekuatan mana pun. Pemerintah diharapkan berani bersuara lantang menentang segala bentuk agresi militer di forum internasional. Selain itu, GMNI menyerukan agar PBB kembali pada mandat utamanya sebagai penjaga perdamaian dan tidak menjadi alat kepentingan negara besar.
Di sisi lain, GMNI mengajak seluruh gerakan mahasiswa dan kaum tertindas di tingkat internasional untuk membangun solidaritas guna melawan segala bentuk eksploitasi global. Cristian menekankan bahwa perdamaian dunia hanya bisa terwujud melalui keadilan sosial dan penghormatan terhadap hak menentukan nasib sendiri, sesuai amanat Pembukaan UUD 1945 dan Dasasila Bandung.
“Perdamaian bukan hadiah dari negara kuat, melainkan hak seluruh umat manusia. Hentikan perang, lawan imperialisme, dan mari kita bangun dunia yang adil serta berperikemanusiaan,” pungkasnya.(*)












