Kisaran, – Tak ada kata Sial maupun beruntung dalam hari kalender. Saya memulai kalimat ini dalam menulis perjalanan Bandung-Yogyakarta dan kembali lagi ke Bandung pada penghujung Juli 2026. Jika dihitung-hitung, dalam tiga hari itu membuat speed kilometer mobil bertambah 1000 km.
Bismillah…, mari kita mulai.
Perjalanan darat dari Bandung menuju Yogyakarta melalui jalur selatan bukanlah perjalanan yang pendek. Kami sudah memperhitungkan sejak awal bahwa perjalanan ini akan cukup jauh, melelahkan, dan membutuhkan konsentrasi tinggi, terutama karena jalur selatan dikenal dengan tikungan, tanjakan, dan turunannya.
Karena itu, kami tidak ingin terburu-buru. Perjalanan dibagi ke dalam beberapa etape dengan durasi berkendara maksimal sekitar dua hingga tiga jam. Setiap etape menjadi kesempatan untuk beristirahat, makan, menunaikan salat, sekaligus memulihkan konsentrasi sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Sebelum berangkat, saya mengisi penuh tangki bahan bakar di Bandung dengan biaya sekitar Rp400.000. Kami ingin perjalanan tetap nyaman tanpa harus terlalu sering berhenti hanya untuk mencari SPBU.
Perjalanan kali ini dilakukan berempat: saya, istri, ayah mertua, dan putri kami yang berusia 17 tahun.
Saya bertugas sebagai pengemudi. Di kursi depan sebelah kiri, istri menjadi navigator sekaligus koordinator perjalanan. Ia membantu memperhatikan rute, mengingatkan titik pemberhentian, dan memastikan berbagai kebutuhan selama perjalanan tetap terkendali.
Ayah mertua duduk di kursi baris kedua sebelah kiri. Sementara itu, putri kami lebih banyak berbaring di bagian belakang mobil.
Sebelum perjalanan dimulai, bagian belakang mobil memang sudah kami atur sedemikian rupa agar bisa menjadi ruang istirahat. Kursi baris ketiga direbahkan seluruhnya, sedangkan setengah bagian kursi baris kedua di sisi kanan juga kami lipat. Di atasnya kami memasang kasur sehingga tercipta tempat tidur sederhana untuk putri kami.
Di ruang yang tersisa, kami menyusun koper, tas, bekal makanan, dan berbagai perlengkapan perjalanan dengan rapi. Bagian belakang mobil pun berubah menjadi semacam kamar kecil berjalan. Putri kami bisa berbaring dengan nyaman di antara barang-barang bawaan, sementara anggota keluarga yang lain tetap memiliki tempat duduk masing-masing.
Sekitar pukul 07.00 pagi, kami meninggalkan Bandung.
Udara pagi masih terasa cukup sejuk ketika mobil mulai bergerak meninggalkan kota. Perjalanan dimulai dengan suasana hati yang baik. Semua perlengkapan sudah siap, bahan bakar penuh, rute telah dipelajari, dan setiap anggota keluarga sudah menempati posisinya masing-masing.
Etape pertama adalah perjalanan dari Bandung menuju Rest Area Mekar Sari di Garut.
Tempat itu kami pilih sebagai lokasi sarapan sekaligus pemberhentian pertama. Sesampainya di sana, kami beristirahat dan mulai mencari makanan. Tersedia berbagai menu, termasuk mi bakso dan beberapa jenis makanan lainnya.
Namun, pagi itu saya tidak ingin makan terlalu berat. Saya hanya menyantap dua butir telur rebus dan satu buah pisang rebus. Menu yang sangat sederhana, sekadar untuk mengisi perut dan menambah tenaga sebelum kembali memegang kemudi.
Sekitar pukul 10.00, kami melanjutkan perjalanan menuju etape kedua, yaitu Rumah Makan Warung Jeruk di Ciamis.
Di tempat inilah kami berhenti untuk makan siang. Menu yang disajikan sebenarnya cukup sederhana, tetapi rasanya sangat nikmat. Sambalnya menggugah selera, ditemani tahu, tempe, ayam serundeng, dan berbagai lauk lainnya.
Setelah beberapa jam berada di perjalanan, makanan rumahan seperti itu terasa begitu istimewa. Kami makan dengan santai, beristirahat, lalu menunaikan salat Zuhur sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Sekitar pukul 13.00, kami memasuki etape ketiga, yaitu perjalanan dari Ciamis menuju Pantai Ayah di Kebumen.
Dari Ciamis, kami melanjutkan perjalanan melewati Banjar, kemudian masuk ke wilayah Cilacap dan bergerak menuju Kebumen. Jalur yang kami lewati merupakan bagian dari jalur selatan Pulau Jawa.
Sebelum berangkat, kami sempat membayangkan bahwa jalur ini akan cukup menantang karena terkenal dengan kelokannya. Namun, kondisi jalan yang kami temui ternyata sesuai harapan. Jalannya relatif lebar, cukup mulus, dan nyaman untuk dilalui.
Cuaca juga sangat mendukung. Perjalanan dilakukan pada musim kemarau, ketika cuaca sedang panas dan hampir tidak ada hujan. Jalanan tetap kering, jarak pandang cukup baik, dan perjalanan tidak terganggu oleh perubahan cuaca.
Dalam hal navigasi, Google Maps sangat membantu.
Istri saya yang bertugas sebagai navigator terus memperhatikan arah dan kondisi jalur di depan. Dari tampilan peta, kami dapat memperkirakan karakter jalan yang akan dilewati. Saya bisa mengetahui apakah di depan terdapat kelokan sedang, tikungan tajam, atau jalan yang relatif lurus.
Informasi itu sangat membantu saya dalam mengatur kecepatan. Ketika peta menunjukkan tikungan tajam, saya bisa lebih awal mengurangi laju kendaraan. Ketika jalan terlihat cukup panjang dan lurus, saya dapat mempersiapkan diri apabila perlu mendahului kendaraan lain.
Tentu saja, peta hanya menjadi alat bantu. Keputusan untuk mendahului tetap dilakukan dengan memperhatikan kondisi jalan secara langsung, marka jalan, jarak pandang, dan kendaraan dari arah berlawanan.
Sepanjang perjalanan, mobil juga terasa stabil. Alhamdulillah, tidak ada gangguan berarti pada kendaraan. Penumpang pun menikmati perjalanan. Ayah mertua duduk tenang di belakang, istri tetap sibuk dengan tugas navigasinya, sedangkan putri kami lebih banyak berbaring di ruang tidur kecil yang sudah disiapkan.
Karena perjalanan dilakukan bukan pada hari libur, lalu lintas pun relatif lengang. Tidak ada kemacetan yang berarti. Sesekali kami bertemu bus, truk, dan kendaraan lain, tetapi secara umum perjalanan berlangsung lancar.
Mulus dan terkendali.
Meski demikian, sebagai pengemudi saya tetap harus menjaga konsentrasi. Jalur yang nyaman dan lalu lintas yang sepi tidak boleh membuat kewaspadaan menurun. Tangan tetap berada di kemudi, mata terus memperhatikan jalan, kaca spion, kendaraan lain, serta petunjuk navigasi dari istri.
Sesekali saya melirik keadaan di dalam mobil.
Di sebelah saya, istri masih memperhatikan peta dan memastikan kami tetap berada di jalur yang benar. Di belakang, ayah mertua menikmati perjalanan dengan tenang. Putri kami tampak nyaman berbaring di atas kasur, dikelilingi koper, tas, bekal, dan barang-barang yang telah tersusun rapi.
Melihat mereka dalam keadaan nyaman membuat saya merasa lega. Namun, di saat yang sama, saya juga semakin menyadari bahwa tanggung jawab terbesar selama perjalanan berada di tangan saya. Saya bukan hanya sedang mengemudikan mobil, tetapi membawa orang-orang terdekat saya menempuh perjalanan ratusan kilometer.
Sekitar pukul 16.00, kami akhirnya tiba di Pantai Ayah, Kebumen.
Setelah berjam-jam berada di dalam mobil, suasana pantai memberikan kesegaran tersendiri. Kami berhenti di pinggir pantai untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan laut. Angin pantai yang berembus terasa menenangkan setelah perjalanan panjang melalui jalan berkelok.
Kami menikmati kelapa muda dan gorengan sambil duduk santai. Tidak ada kegiatan yang istimewa, tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat momen tersebut terasa menyenangkan.
Pantai Ayah bukan sekadar tempat persinggahan. Tempat itu menjadi lokasi untuk mengembalikan stamina, melemaskan tubuh, dan mempersiapkan diri sebelum memasuki etape keempat atau etape terakhir menuju Yogyakarta.
Sampai titik itu, perjalanan berjalan hampir sesuai dengan semua yang telah kami rencanakan.
Cuaca cerah. Jalanan mulus. Navigasi aman. Mobil stabil. Penumpang nyaman. Tidak ada kemacetan berarti. Setiap etape dapat dilalui dengan tenang dan terkendali.
Perjalanan dari Bandung menuju Kebumen melalui Garut, Ciamis, Banjar, dan Cilacap telah membawa kami menempuh jarak sekitar 350 kilometer. Meski cukup panjang, perjalanan itu terasa menyenangkan karena kami tidak hanya mengejar tujuan. Kami menikmati setiap persinggahan, makanan sederhana, obrolan di dalam mobil, dan kebersamaan sebagai sebuah keluarga.
Saat itu, cerita perjalanan kami masih dipenuhi hal-hal yang menyenangkan.
Kami belum mengetahui bahwa di balik perjalanan yang tampak mulus dan terkendali itu, ada bagian lain yang jauh lebih dramatis—bahkan tragis—yang kemudian mengubah suasana perjalanan kami.(*)












