Kisaran — Ketua Lembaga Pasukan Adat Tomanurung, Ryan Latief La Kaseng, menilai Nusantara akan memiliki kemungkinan perkembangan geopolitik yang berbeda jika tidak mengalami kolonialisme Belanda. Menurutnya, absennya intervensi kolonial Belanda berpotensi mendorong terbentuknya tatanan politik berbasis kedaulatan maritim dan persekutuan antarkerajaan, yang ia sebut sebagai Konfederasi Maritim Nusantara.
Ryan menyampaikan pandangan tersebut dalam kajiannya mengenai sejarah dan kemungkinan perkembangan Nusantara sebelum masuknya pengaruh kolonial Belanda.
Ia menilai kolonialisme turut memperkenalkan konsep negara teritorial yang lebih kaku dan menggeser tradisi persekutuan bahari yang sebelumnya berkembang di kawasan Nusantara.
Dalam skenario yang ia gambarkan, kerajaan-kerajaan besar seperti Kesultanan Aceh, Kedatuan Luwu, Gowa-Tallo, Mataram, serta Ternate-Tidore berpotensi membangun hubungan yang lebih erat melalui diplomasi bahari dan hukum adat.
“Tanpa intervensi kolonial, Nusantara tidak akan terpecah secara konfliktual, melainkan tumbuh menjadi Konfederasi Maritim Nusantara,” kata Ryan dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Ia menambahkan, hubungan antarkerajaan tersebut dapat bertumpu pada penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing wilayah dan nilai-nilai hukum adat yang telah berkembang di berbagai daerah.
Dampak ekonomi
Ryan juga mengaitkan skenario tersebut dengan perkembangan ekonomi kawasan. Ia menilai model perdagangan yang diterapkan VOC, yang menurutnya bersifat ekstraktif dan monopolistik, menjadi salah satu faktor yang mengubah tatanan ekonomi lokal.
Jika intervensi tersebut tidak terjadi, kata dia, kota-kota pelabuhan di Nusantara berpeluang berkembang lebih alami sebagai pusat perdagangan internasional.
Pertumbuhan ekonomi, dalam skenario itu, akan ditopang oleh hubungan dagang antarbangsa dengan tetap mempertahankan kedaulatan terhadap komoditas lokal serta memperhatikan keseimbangan ekologis.
Ryan juga menilai perkembangan kebudayaan Nusantara akan berlangsung melalui proses interaksi yang lebih setara.
Ia menyebut bahasa Melayu berpotensi semakin kuat sebagai bahasa pergaulan, diplomasi, dan perdagangan. Sementara itu, penyerapan kosakata dari bahasa Arab, Portugis, hingga Tionghoa dinilai tetap dapat berlangsung melalui interaksi antarmasyarakat.
Sulawesi dinilai punya posisi strategis
Dalam pandangannya mengenai konfigurasi geopolitik Nusantara, Ryan menempatkan Sulawesi sebagai salah satu poros penting.
Menurutnya, posisi Sulawesi sebagai simpul jalur pelayaran yang menghubungkan kawasan Samudra Hindia dan Pasifik membuat wilayah tersebut memiliki nilai strategis dalam konteks geopolitik maritim.
Ryan juga menilai sejarah masyarakat Sulawesi memiliki tradisi yang kuat dalam mempertahankan independensi dan hukum laut.
Nilai siri’ na pacce, lanjut dia, menjadi salah satu landasan budaya yang dapat memperkuat karakter masyarakat dalam menjaga kehormatan, kepedulian, solidaritas, serta martabat leluhur.
“Sulawesi memiliki akar sejarah yang kokoh dalam menjaga independensi serta hukum laut,” ujarnya.
Ryan berpandangan, nilai-nilai tersebut tetap relevan dalam melihat posisi Nusantara di tengah dinamika geopolitik kawasan saat ini maupun pada masa mendatang.(*)












