Kisaran, – Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PAN, Ajbar Abd Kadir, melakukan kunjungan kerja spesifik ke Balai Benih Hortikultura Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Kamis (22/1), dalam rangka penguatan sistem perbenihan hortikultura berkelanjutan yang terintegrasi dengan konservasi tanah dan air guna mendukung ketahanan pangan nasional.
Dalam kunjungan tersebut, Ajbar menekankan bahwa perbenihan hortikultura harus dikembangkan tidak hanya berdasarkan capaian produktivitas, tetapi juga melalui pendekatan agroekologi yang mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan, khususnya di wilayah dataran tinggi yang rentan terhadap erosi, longsor, dan degradasi sumber daya air.
“Penguatan perbenihan harus berjalan seiring dengan praktik konservasi tanah dan air. Tanpa itu, peningkatan produksi justru berpotensi menurunkan kualitas lahan dan mengancam keberlanjutan sistem pangan,” ujar Ajbar dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 23 Januari 2026.
Ajbar mendorong agar inovasi benih hortikultura yang dihasilkan Balai Benih Tawangmangu bersifat adaptif terhadap kondisi agroklimat lokal, efisien dalam penggunaan input, serta disertai rekomendasi teknis budidaya yang mendukung mitigasi risiko bencana hidrometeorologis.
Ia juga menyoroti pentingnya hilirisasi riset perbenihan, agar varietas unggul hasil penelitian dapat diimplementasikan secara luas di tingkat petani. Menurutnya, penguatan kapasitas sumber daya manusia, pendampingan teknis, serta dukungan anggaran menjadi prasyarat agar teknologi perbenihan modern dapat diadopsi secara efektif.
“Kemandirian benih hortikultura tidak cukup berhenti pada riset. Harus ada jaminan bahwa inovasi tersebut sampai ke petani dan diterapkan dengan standar budidaya yang berkelanjutan,” tegasnya.
Selain itu, Ajbar menilai Balai Benih Hortikultura Tawangmangu memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan benih hortikultura nasional sekaligus model praktik pertanian berkelanjutan berbasis konservasi tanah dan air.
“Perbenihan adalah fondasi sistem pangan. Jika fondasinya kuat, adaptif, dan ramah lingkungan, maka ketahanan pangan nasional akan lebih resilien terhadap perubahan iklim dan tekanan global,” pungkas Ajbar.
