JEJAK ABRAHAMIK: TOLERANSI, SEJARAH KITAB SUCI, DAN PESAN DAMAI DALAM ISLAM

Oleh: Asriaty Alda Zain

“Akar sejarah agama-agama besar berjumpa pada satu pusat: tauhid, kedamaian, dan memartabatkan umat manusia.”

Kunjungan kami ke Aya Sofia di Istanbul selalu meninggalkan kesan mendalam. Bangunan megah itu menjadi simbol hidup toleransi: simbol-simbol Kristen dan Islam tetap terjaga berdampingan tanpa ada yang dihapus. Ia menjadi bukti bahwa peradaban dapat bertemu tanpa saling meniadakan.

#Nabi Ibrahim: Akar Bersama Tiga Agama Besar

Nabi Ibrahim adalah figur sentral yang menjadi fondasi agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Beliau bukan orang Arab, melainkan berasal dari kota kuno Ur di Babilonia (kini Irak). Dalam Q.S. Al-A’la 87:19 disebutkan bahwa Nabi Ibrahim adalah pembawa wahyu Tuhan dan peletak dasar ajaran Tauhid. Umat Islam meyakini beliau menerima sekitar 10 lembar Shuhuf sebagai wahyu Ilahi.

Baca Juga  Jilbab dari Masa ke Masa: Sejarah, Makna, dan Fenomena Kekinian

#Sejarah Singkat Kitab-Kitab Samawi

1. Taurat Diturunkan kepada Nabi Musa a.s. sekitar abad ke-12 SM, berbahasa Ibrani, berisi syariat dan aturan hidup. Dalam tradisi Yahudi-Kristen dikenal sebagai Perjanjian Lama.

2. Zabur Diturunkan kepada Nabi Daud a.s. sekitar abad ke-10 SM. Ia tidak membawa syariat baru, tetapi berisi pujian dan doa dengan bahasa Qibti, bahasa masyarakat Mesir kuno.

3. Injil Diturunkan kepada Nabi Isa a.s. pada abad pertama Masehi, berbahasa Suryani (Suriah). Dalam tradisi Kristen disebut Perjanjian Baru.

4. Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw pada abad ke-6 M dalam bahasa Arab, sebagai wahyu terakhir penyempurna kitab-kitab sebelumnya.

#Pelajaran Toleransi dari Sejarah Kenabian

Sejarah Islam awal menunjukkan hubungan harmonis antarumat beragama:

* Ketika Muslim Mekkah ditindas dan diboikot, Raja Kristen Habasyah (Najasyi) memberikan perlindungan. Bahkan ketika delegasi Kristen Najran datang ke Madinah, Nabi memberi ruang bagi mereka untuk melakukan misa di (pelataran) masjid.

Baca Juga  MENDENGAR: Bentuk Tertinggi Kehadiran untuk Sesama

* Saat Rasulullah masih di Mekkah dan Ka’bah dikelilingi ratusan berhala, beliau tetap memasukinya untuk beribadah—sebuah contoh kedewasaan spiritual.

* Ketika Isra’ Mi’raj, bentuk Masjid Al-Aqsa masih menyerupai tempat ibadah kaum Nasrani, karena Islam belum hadir di Palestina saat itu. Baru setelah masa Khalifah Umar bin Khattab, Al-Aqsa berada dalam pengelolaan umat Islam.

Masjid Al-Aqsa adalah titik penting perjalanan para nabi: di sanalah Nabi Isa menerima wahyu kenabian, dan dari tempat itu pula Nabi Muhammad Saw memulai Mi’raj ke langit.

#Islam dan Prinsip Hidup Damai

Al-Qur’an menegaskan bahwa Islam adalah agama yang benar di sisi Allah, namun pada saat yang sama ia mengakui keberadaan berbagai keyakinan lain dalam masyarakat. Islam mengajarkan toleransi: hidup damai tanpa harus mengorbankan keyakinan terhadap kebenaran wahyu.

Baca Juga  Mengenang Jenderal Salim Sayyid Mengga: Jujur, Tegas dan Mengayomi

Sejalan dengan firman Allah dalam Q.S. Al-Anbiya’ 21:107: “Tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Tulisan ini mengingatkan bahwa akar sejarah agama-agama besar berjumpa pada satu pusat: tauhid, kedamaian, dan memartabatkan umat manusia.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *