Perempuan Mandar ‘Berguru’ Hilirisasi Kakao ke Gunungkidul: Targetkan Kemandirian Ekonomi Sulbar

Pengurus BPP-KWMSB belajar mengolah kakao menjadi coklat siap makan UPT Taman Teknologi Pertanian (TTP) Nglanggeran, Gunung Butak, Desa Nglanggeran, Kabupaten Gunungkidul, Kamis, (16/1/2026). (Foto: Tim BPW KKMSB)

Kisaran, – Kerukunan Wanita Mandar Sulawesi Barat (KWMSB) melakukan kunjungan studi ke UPT Taman Teknologi Pertanian (TTP) Nglanggeran, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (16/1/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk memperkuat kemandirian ekonomi perempuan berbasis potensi lokal.

Ketua Umum BPP-KWMSB, Asriaty Alda Zain, menegaskan kunjungan ini bertujuan membekali perempuan Mandar mengenai proses pengolahan kakao dari hulu ke hilir. Hal ini krusial mengingat Sulawesi Barat merupakan salah satu penghasil kakao terbesar di Indonesia. Asriaty tertantang untuk memaksimalkan pengolahan produk kakao agar bernilai tambah.

“Kami berharap potensi besar kakao sebagai komoditas unggulan Sulbar tidak hanya berhenti pada produksi bahan mentah,” ujar Asriaty saat mendampingi para anggota dalam pelatihan pembuatan dodol cokelat.

Dalam studi ini, para pengurus KWMSB lintas wilayah—termasuk dari Sulawesi Selatan hingga Yogyakarta-Jateng—mempelajari sepuluh tahapan pengolahan biji kakao, mulai dari fermentasi hingga pengemasan produk siap konsumsi. Model integrasi antara sektor pertanian dan pariwisata ini dinilai sebagai inspirasi sempurna bagi pengembangan UMKM dan pemberdayaan perempuan di Sulawesi Barat.

Baca Juga  Muslim: Jalan Berserah Diri kepada Sang Pencipta

“Ini sangat menginspirasi kami. Makanya kami datang belajar ke Gunungkidul. Kami akan rangkum menjadi bahan ajar dan praktik nyata di kampung halaman agar menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan,” imbuh Asriaty.

Baca Juga  Saat Gerimis Ciloto Jadi Saksi Bersatunya Diaspora Mandar Sulawesi Barat

Sementarta itu, Kepala UPT TTP Nglanggeran, Jadi Markuat, menyambut baik semangat para perempuan Mandar tersebut. Ia menjelaskan kekuatan ekonomi kakao terletak pada hilirisasi, seperti yang telah mereka lakukan melalui produksi dark chocolate, es krim, hingga dodol cokelat yang bahan bakunya diserap langsung dari petani lokal.

Selain aspek teknis, kunjungan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi bagi perempuan Mandar yang tersebar di berbagai daerah, seperti Semarang, Solo, dan wilayah lainnya.

Kunjungan ini diharapkan menjadi titik awal bagi lahirnya produk-produk olahan cokelat khas Sulawesi Barat yang mampu bersaing di pasar nasional, sekaligus memosisikan perempuan Mandar sebagai pilar utama dalam transformasi ekonomi berbasis hilirisasi produk pertanian.

Baca Juga  NISFU SYA‘BAN: Tradisi, Perbedaan Ulama, dan Kearifan Lokal

Turut hadir mendampingi dalam kegiatan ini, Ketua Umum BPP-KKMSB, Dr. Muhammad Zain, serta jajaran pembina dan pengurus pusat lainnya serta Ketua KKMSB Jogjakarta, M Fudhail.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *