By: Asriaty Alda Zain
Di Nusantara, kuda tidak pernah hadir sebagai sekadar alat transportasi. Ia tumbuh menjadi bagian dari seni, ritus adat, simbol kehormatan, serta penanda hubungan manusia dengan alam dan nilai-nilai spiritual.
Di Sumba, kuda menjadi pusat Pasola, atraksi adat yang menyatukan keberanian, ritus kesuburan, dan kepercayaan Marapu. Di Bima dan Dompu, Pacoan Jara bukan hanya balapan, tetapi pesta rakyat pascapanen yang menegaskan kegembiraan dan solidaritas sosial.
Di Aceh, Lombok, Madura, Bali, Jawa, Minangkabau, Kalimantan, hingga Sulawesi Selatan, kuda hadir dalam pacuan, arak-arakan, seni pertunjukan, legenda, dan kisah epik selalu membawa makna kekuatan, martabat, dan kebesaran.
Namun, di Mandar (Sulawesi Barat), kuda menempati ruang yang unik dan sarat makna melalui tradisi Saiyyang Pattu’du—kuda menari yang dihias indah dan diarak sebagai penghormatan bagi anak yang telah khatam Al-Qur’an. Tradisi ini menyatukan seni, pendidikan, dan nilai spiritual dalam satu perayaan kolektif.
Saiyyang Pattu’du bukan pertunjukan kecepatan atau adu kekuatan. Ia adalah seni harmoni. Gerak kuda diatur dengan lembut, diiringi musik tradisional dan doa, menandakan bahwa kemuliaan tidak lahir dari penaklukan, tetapi dari pengendalian dan keseimbangan.
Di atas pelana, perempuan Mandar tampil anggun dalam busana adat menjadi simbol martabat, kecerdasan, dan peran penting perempuan dalam menjaga nilai budaya dan agama.
Dalam perspektif Islam, kuda memiliki kedudukan mulia. Al-Qur’an melalui Surah Al-‘Adiyat menggambarkan kuda sebagai makhluk tercepat dan penuh pengabdian. Bahkan tapak kuda dijadikan sebagai ornamen Masjid Umayyah di Damaskus dan Masjid Kordova, Spanyol yang masyhur itu.
Sekarang, ornamen Masjidil Haram Mekkah dan masjid Nabawi Madinah juga disimbolkan dengan tapak kuda. Kuda– sewaktu ekspansi Islam ke wilayah baru (al-futuhat) –adalah kendaraan tercepat dan paling tangguh.
Sementara hadis Nabi menyebut keberkahan yang terikat pada kuda hingga akhir zaman. Kuda melambangkan kesiapsiagaan, kesetiaan, dan kekuatan yang diarahkan untuk kebaikan.
Pada akhirnya, kuda dalam budaya Nusantara—terutama dalam Saiyyang Pattu’du—mengajarkan filosofi hidup yang sederhana namun mendalam: kekuatan sejati adalah kekuatan yang mampu dikendalikan, keindahan lahir dari harmoni, dan kemuliaan tumbuh ketika ilmu, adab, serta spiritualitas berjalan seiring.
Walllahu a’lam 🙏🤍🤍












