Berjalan Jauh Bandung-Yogyakarta (Part 3)
Etape terakhir akhirnya dimulai.
Senin siang, kami bersiap meninggalkan Yogyakarta. Suasana terasa berbeda dibanding dua hari sebelumnya ketika kami datang dengan penuh semangat. Kini, rombongan kami tak lagi lengkap. Papah mertua telah lebih dulu kembali ke Bandung menggunakan kereta api pada malam sebelumnya. Tinggallah kami bertiga: saya, istri, dan putri kami yang masih dalam masa pemulihan setelah kecelakaan.
Mobil yang dua hari lalu mengantar kami ke resepsi keluarga kini kembali berubah fungsi.
Kursi baris kedua dan ketiga kami rebahkan sepenuhnya. Kasur tipis kembali kami hamparkan hingga membentuk ruang memanjang di bagian belakang mobil. Di sanalah putri kami berbaring hampir sepanjang perjalanan. Mobil keluarga itu, untuk sementara waktu, menjadi ambulans sederhana yang membawa harapan agar perjalanan pulang dapat dilalui senyaman mungkin.
Sekitar pukul sebelas siang, kami meninggalkan hotel.
Namun, tujuan pertama kami bukanlah Bandung.
Kami mengarahkan kendaraan menuju Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta.
Di sanalah Om Fahmi menjalani perawatan. Kecelakaan yang menimpa putri kami juga mengakibatkan beliau mengalami cedera pada bahu kiri dan harus menjalani operasi pemasangan pen. Sebelum pulang, rasanya tidak lengkap jika kami tidak menyempatkan diri menjenguk dan memberi semangat.
Sekitar satu jam kami menghabiskan waktu di rumah sakit. Percakapan kami tidak banyak membahas kecelakaan. Justru lebih banyak saling menguatkan dan berharap proses pemulihan berjalan lancar. Dalam keadaan seperti itu, kehadiran keluarga sering kali jauh lebih berarti daripada kalimat-kalimat panjang.
Menjelang pukul 13.30 WIB, kami kembali melanjutkan perjalanan.
Kali ini benar-benar menuju arah barat.
Tujuan berikutnya adalah Semarang.
Menjelang sore, sekitar pukul 16.10 WIB, kami tiba di Kota Semarang. Meski perjalanan pulang menjadi prioritas utama, kami tetap menyempatkan diri menikmati beberapa hal yang sudah lama menjadi ciri khas kota ini.
Kami menikmati semangkuk Soto Ayam Bang Ali yang hangat, rasa yang terasa pas setelah berjam-jam berada di dalam mobil. Setelah itu, kami berhenti sejenak di depan kawasan Sam Poo Kong. Tidak lama, hanya cukup untuk mengabadikan beberapa foto sebagai penanda bahwa kami pernah singgah di sana.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju kawasan Pandanaran.
Di sanalah kami mampir ke Bandeng Juwana Elrina untuk membeli oleh-oleh sebelum benar-benar meninggalkan Semarang.
Tepat pukul 17.00 WIB, mobil kembali memasuki jalan tol.
Tujuan berikutnya hanya satu.
Bandung.
Aplikasi peta memperkirakan perjalanan sekitar empat setengah jam dengan jarak kurang lebih tiga ratus lima puluh kilometer.
Namun, sejak kecelakaan itu, saya tidak lagi terlalu memedulikan angka-angka tersebut.
Saya tidak sedang berlomba dengan waktu.
Saya tidak harus membuktikan bahwa perjalanan bisa ditempuh sesuai perkiraan aplikasi.
Yang saya inginkan hanya satu.
Semua kembali ke rumah dengan selamat.
Karena itu, saya mengemudi lebih santai dibanding biasanya. Setiap kali kaki mulai terasa pegal atau konsentrasi mulai menurun, kami berhenti. Dua kali kami beristirahat di rest area untuk meregangkan otot dan mengembalikan tenaga. Bahkan ketika memasuki wilayah Cirebon, kami sempat keluar dari jalan tol sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Tidak ada yang terburu-buru.
Tidak ada yang mengeluh.
Sesekali saya melirik ke kaca spion. Putri kami masih berbaring di atas kasur kecil di belakang. Istri saya tetap setia menemani di kursi depan, sesekali memastikan kondisi putri kami baik-baik saja.
Malam semakin larut.
Lampu-lampu kendaraan membentuk garis panjang di sepanjang jalan tol. Kilometer demi kilometer berlalu tanpa terasa. Jalan yang sama, kendaraan yang sama, bahkan tujuan yang sama. Namun, rasanya berbeda.
Perjalanan ini telah mengubah cara kami memandang sebuah perjalanan.
Akhirnya, pukul 02.20 WIB, mobil perlahan memasuki halaman rumah.
Pintu garasi kembali terbuka.
Di tempat yang sama, tiga hari sebelumnya, perjalanan ini dimulai dengan penuh harapan.
Kini kami kembali dengan tubuh yang lebih lelah, kendaraan yang membawa bekas-bekas perjalanan, dan hati yang membawa pengalaman yang tak akan pernah kami lupakan.
Bandeng Juwana memang menjadi oleh-oleh yang kami bawa dari Semarang.
Tetapi oleh-oleh yang sesungguhnya jauh lebih berharga daripada itu.
Cara kami memandang perjalanan tidak akan pernah sama lagi.(*)












