Kecelakaan di Jalur Daendels

Meregangkan otot sesaat setelah tiba di Pantai Ayah, Kebumen. (Foto: Zeena)

Perjalanan Bandung-Yogyakarta (Part2)

Namun, sebenar-benarnya tokoh utama dalam perjalanan ini bukan hanya kami berempat.

Ada satu orang lain yang sejak awal juga berniat pergi ke Yogyakarta. Ia masih memiliki hubungan keluarga dekat dengan istri saya. Ibunya merupakan adik kandung ayah mertua saya. Dengan kata lain, ia adalah keponakan ayah mertua saya, sementara putri kami memanggilnya “Om”.

Berbeda dengan kami yang menggunakan mobil, ia memilih berangkat dengan sepeda motor. Ia ingin melakukan perjalanan ala touring dengan mengikuti rute yang sebelumnya telah kami susun. Kami bersepakat untuk bertemu di setiap titik pemberhentian yang tercantum dalam rundown perjalanan: Rest Area Mekar Sari di Garut, rumah makan di Ciamis, dan Pantai Ayah di Kebumen.

Sejak awal, putri kami sebenarnya ingin ikut menikmati perjalanan dengan sepeda motor bersama omnya. Namun, kami tidak mengizinkannya ikut sejak Bandung. Menempuh seluruh perjalanan dengan sepeda motor terasa terlalu jauh dan melelahkan baginya.

Setelah berdiskusi, akhirnya dibuat kesepakatan. Ia diperbolehkan ikut naik motor mulai dari Ciamis, setelah makan siang, lalu melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta bersama omnya.

Siang itu, setelah makan dan menunaikan salat Zuhur di Ciamis, komposisi perjalanan kami pun berubah. Saya, istri, dan ayah mertua kembali masuk ke mobil. Sementara putri kami mengenakan perlengkapan perjalanan dan naik ke sepeda motor bersama omnya.

Mereka melaju menuju Pantai Ayah, Kebumen, sedangkan kami mengikuti dengan mobil melalui rute yang sama.

Perjalanan dari Ciamis menuju Pantai Ayah ditempuh sekitar tiga jam lima belas menit. Alhamdulillah, semuanya berlangsung lancar. Tidak ada kendala berarti sepanjang perjalanan. Kami pun kembali bertemu di Pantai Ayah dalam keadaan baik.

Pertemuan itu membuat kami lega. Putri kami terlihat menikmati pengalaman pertamanya menempuh perjalanan cukup jauh dengan sepeda motor. Kami kemudian beristirahat bersama di pinggir pantai, menikmati kelapa muda dan gorengan, sambil memulihkan stamina sebelum melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta.

Sekitar pukul 17.00, kami kembali bersiap. Berdasarkan perkiraan Google Maps, waktu tempuh menuju tujuan akhir tinggal kurang dari dua jam.

Baca Juga  JEJAK ABRAHAMIK: TOLERANSI, SEJARAH KITAB SUCI, DAN PESAN DAMAI DALAM ISLAM

Kami meninggalkan Pantai Ayah dan mulai menyusuri jalur yang cukup menantang. Jalanan berkelok tajam dan menanjak membentang sekitar dua belas kilometer sebelum akhirnya terhubung dengan jalur Pantai Selatan Jawa dan Jalan Daendels.

Hampir satu jam perjalanan, kami mulai memasuki jalur pantai selatan. Jalan di hadapan kami tampak mulus, panjang, dan relatif lurus menuju Yogyakarta. Lalu lintas juga cukup sepi.

Sore perlahan berganti malam.

Sekitar pukul 18.50, tepat ketika waktu Magrib dan cahaya petang mulai menghilang, laju kendaraan di depan kami tiba-tiba melambat. Di sisi kiri dan kanan jalan poros pantai selatan, terlihat banyak warga berkumpul.

Saya segera mengurangi kecepatan. Mobil bergerak perlahan sambil lampu hazard dinyalakan.

Dari luar terdengar teriakan warga secara bergantian.

“Ada kecelakaan!”

“Ada kecelakaan!”

Suara itu terdengar nyaring, masuk melalui jendela dan langsung mengubah suasana di dalam mobil. Titik keramaian itu berada di sekitar 6HQ2+JR, Srubung, Sidoharjo, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen.

Saya, istri, dan ayah mertua seketika menegang.

Pikiran-pikiran buruk mulai muncul. Kami berusaha meyakinkan diri bahwa kecelakaan tersebut tidak berhubungan dengan anggota keluarga kami. Namun, beberapa saat kemudian, dari keremangan malam, terlihat sebuah sepeda motor besar tergeletak di tepi aspal.

Warnanya merupakan perpaduan putih dan biru metalik.

Warna yang sangat kami kenal.

Itu sama dengan warna sepeda motor yang dikendarai putri kami bersama omnya.

Jantung saya berdegup semakin kencang. Pikiran seolah dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ingin saya bayangkan. Namun, saya tetap harus mengendalikan diri karena masih berada di balik kemudi.

Saya berusaha menenangkan tangan dan pikiran, mengarahkan mobil ke tempat yang aman, lalu menghentikannya.

Begitu mobil berhenti, istri dan ayah mertua saya langsung turun. Mereka berlari menuju lokasi sepeda motor sambil mencari putri kami dan omnya.

Beberapa detik terasa sangat panjang.

Alhamdulillah, keduanya masih dalam keadaan sadar.

Putri kami saat itu sudah berada di dalam mobil milik warga yang bersiap membawanya ke rumah sakit terdekat. Mobil tersebut belum berangkat karena masih menunggu proses evakuasi omnya.

Baca Juga  MENDENGAR: Bentuk Tertinggi Kehadiran untuk Sesama

Dalam situasi yang serba cepat dan penuh kepanikan, istri saya mengambil keputusan agar kedua korban dibawa menggunakan satu kendaraan saja. Putri kami kemudian dipindahkan dari mobil warga ke mobil kami. Omnya juga segera dievakuasi dan ditempatkan di bagian belakang mobil.

Kasur yang sejak awal kami pasang sebagai fasilitas tambahan agar putri kami dapat beristirahat selama perjalanan, malam itu berubah fungsi menjadi tempat membaringkan korban kecelakaan.

Koper, tas, bekal, dan barang-barang lain segera disingkirkan atau diatur ulang. Ruang belakang mobil yang sebelumnya menjadi tempat beristirahat kini menjadi ruang evakuasi darurat.

Tujuan kami bukan lagi Yogyakarta.

Kami segera menuju Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Petanahan di Jalan Daendels Kilometer 1, Petanahan, Kebumen.

Setibanya di Unit Gawat Darurat, petugas rumah sakit langsung melakukan tindakan awal. Pemeriksaan dilakukan terhadap keduanya, disusul rontgen untuk mengetahui kemungkinan cedera pada bagian dalam tubuh.

Putri kami mengeluhkan sakit dan tidak mampu berjalan. Kedua pergelangan kakinya terasa tidak kuat untuk menapak. Kondisi itu tentu membuat kami khawatir, terlebih setelah mengetahui bahwa ia baru saja mengalami kecelakaan di jalan raya.

Pemeriksaan rontgen dilakukan, terutama pada bagian dada serta pergelangan kaki kiri dan kanan.

Alhamdulillah, hasilnya menunjukkan tidak ada cedera serius pada bagian-bagian tersebut. Tidak ditemukan patah tulang. Meski masih mengalami nyeri dan kesulitan berjalan, hasil pemeriksaan putri kami cukup melegakan.

Kondisi omnya berbeda.

Hasil rontgen menunjukkan adanya patah tulang pada bahu kiri. Cedera tersebut membutuhkan penanganan lebih lanjut. Keesokan harinya, pada Minggu siang, diputuskan bahwa ia harus dibawa ke Rumah Sakit Ortopedi Sukoharjo untuk menjalani operasi pemasangan pen.

Musibah itu mengubah seluruh rencana perjalanan kami.

Sebelumnya, kami memperkirakan dapat tiba di Kota Gudeg sekitar pukul 20.00 atau 21.00. Namun, sejak sekitar pukul 18.30 hingga pukul 00.05, seluruh perhatian kami tertuju pada penanganan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Petanahan.

Tidak ada lagi pikiran tentang jadwal perjalanan, tempat makan, atau waktu tiba di penginapan. Satu-satunya hal yang kami pikirkan adalah memastikan kondisi putri kami dan omnya tertangani dengan baik.

Baca Juga  Jusuf Kalla Apresiasi Relawan PMI dalam Penanganan Korban Kecelakaan Kereta Api di Bekasi

Setelah pemeriksaan selesai dan kondisi keduanya dinyatakan cukup aman untuk melanjutkan perjalanan, kami kembali bergerak menuju Yogyakarta.

Mobil yang sebelumnya diisi obrolan santai kini terasa jauh lebih sunyi. Kelelahan masih ada, tetapi bercampur dengan rasa syukur, cemas, dan sisa-sisa ketegangan yang belum sepenuhnya hilang.

Kami akhirnya tiba di Yogyakarta sekitar pukul 02.20 pada Minggu dini hari—lebih dari lima jam setelah waktu kedatangan yang direncanakan.

Malam itu kami memahami bahwa sebuah perjalanan dapat berubah hanya dalam hitungan detik.

Beberapa jam sebelumnya, kami masih menikmati kelapa muda dan gorengan di tepi Pantai Ayah. Jalanan terasa mulus, cuaca cerah, kendaraan stabil, dan semua anggota keluarga menikmati perjalanan. Namun menjelang malam, perjalanan yang begitu tenang berubah menjadi kepanikan, proses evakuasi, dan penantian panjang di ruang gawat darurat.

Rute, jadwal, dan rundown memang dapat dipersiapkan dengan matang. Kendaraan dapat diperiksa, bahan bakar dapat diisi penuh, cuaca dapat diprediksi, dan titik-titik istirahat dapat ditentukan. Namun, tidak semua hal dalam perjalanan berada dalam kendali manusia.

Pada akhirnya, keterlambatan tiba di Yogyakarta bukan lagi sesuatu yang penting. Yang paling kami syukuri adalah putri kami dan omnya masih sadar, masih dapat diselamatkan, serta memperoleh pertolongan dengan cepat.

Perjalanan ini kemudian bukan hanya menjadi cerita tentang menempuh jalur selatan dari Bandung menuju Yogyakarta.

Ia menjadi cerita tentang kebersamaan, kepanikan, pertolongan orang-orang yang tidak kami kenal, keputusan cepat dalam keadaan darurat, dan rasa syukur karena di tengah sebuah musibah, kami masih diberi kesempatan untuk kembali berkumpul sebagai keluarga.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *