Penulis : Dr.Mustaqim (Pengurus BPP KKMSB Bidang Dakwah & Sosial)
Hari raya Idul Adha atau Idul Qurban bukan sekadar perayaan penyembelihan hewan qurban, tetapi momentum besar untuk mengambil pelajaran hidup dari sosok agung Nabi Ibrahim AS. Lebih dari ribuan tahun lalu, beliau hidup sebagai seorang hamba yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Allah. Meski jasadnya telah lama tiada, jejak keteladanannya masih terasa hingga hari ini.
Ada ungkapan, “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.” Lalu, manusia meninggalkan apa? Jawabannya: kita akan dikenang sesuai dengan perilaku dan amal kita hari ini.
Dalam Al-Qur’an banyak kisah nyata yang menjadi pelajaran. Salah satu kisah paling luar biasa adalah kisah keluarga Nabi Ibrahim. Allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an, khususnya Surah As-Saffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ…
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu…”
Ayat ini menunjukkan dialog luar biasa antara ayah dan anak: penuh cinta, kejujuran, dan ketaatan kepada Allah.
Pelajaran Hidup dari Nabi Ibrahim
- Mendidik anak dengan kelembutan dan cinta
Perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim memanggil putranya, Nabi Ismail AS, dengan kalimat “Yaa Bunayya” — wahai anakku tersayang. Ini adalah panggilan kasih, lembut, dan penuh cinta.
Pelajaran besar bagi kita: kunci mendidik anak bukan dengan amarah, tetapi dengan kelembutan. Ucapan orang tua adalah doa. Karena itu, biasakan kalimat positif kepada anak-anak. Jangan sampai rumah kehilangan kehangatan, sebab rumah yang dipenuhi cinta akan terasa seperti surga, tempat anak-anak menemukan ketenangan.
- Kesuksesan rumah tangga dibangun bersama
Rahasia keluarga Nabi Ibrahim bukan hanya karena beliau seorang nabi, tetapi karena pasangan beliau, Siti Hajar, adalah sosok perempuan yang sangat sabar dan kuat.
Ketika ditinggalkan di lembah tandus Makkah, Siti Hajar tetap percaya kepada Allah. Dari keteguhan Ibrahim dan kesabaran Hajar lahirlah sejarah besar peradaban Islam.
Pelajarannya: tidak ada rumah tangga yang berhasil sendirian. Suami dan istri adalah zauj—pasangan yang saling melengkapi, saling menguatkan, dan saling menghidupkan harapan.
- Dekatkan anak kepada Tuhannya
Kesalahan terbesar sebagian orang tua hari ini adalah sibuk mengenalkan anak pada dunia, tetapi lupa mengenalkan mereka kepada Allah.
Nabi Ibrahim tidak hanya membesarkan Ismail secara fisik, tetapi menanamkan iman yang kuat. Maka ketika ujian datang, Ismail mampu berkata: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Inilah bukti bahwa anak yang dekat dengan Allah akan memiliki kekuatan jiwa yang luar biasa.
Penutup
Hari ini kita mengenal Nabi Ibrahim karena beliau meninggalkan keteladanan. Kita mengenal orang tua kita karena jasa dan pengorbanan mereka.
Pertanyaannya: pelajaran apa yang akan anak-anak kita ambil dari diri kita? Apakah kita siap menjadi teladan? Apakah rumah kita sudah menjadi madrasah cinta? Apakah anak-anak kita sudah mengenal Allah melalui sikap dan perilaku kita?
Semoga Idul Qurban tahun ini bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih ego, amarah, dan kelalaian kita; lalu menggantinya dengan cinta, kesabaran, dan ketaatan.
Rabbanaa taqabbal minna innaka Antas-Sami’ul ‘Alim, wa tub ‘alaina innaka Antat-Tawwabur Rahim.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.












