Sumbang Saran pada Rapat Penguatan Forum Sipamandar
Hotel Villa Bogor, 26 September 2026
Oleh: Abdul Watif Waris
(Partisipan Pembentukan Sulbar • Pendiri Tabloid Mandar Pos)
Kita berkumpul hari ini bukan sekadar bertemu. Kita hadir untuk menjawab satu pertanyaan sederhana, namun sarat makna: untuk apa Forum Sipamandar ini ada?
Dua puluh dua tahun lalu, Sulawesi Barat lahir dari kesepakatan, dari perjuangan bersama, dari suara yang menyatu. Kini, setelah dua puluh dua tahun berlalu, suara itu makin terpecah. Aturan dilanggar begitu saja. Mereka yang sejak awal berjuang tersisih. Tata kelola pemerintahan tak sejalan dengan cita-cita awal Sulbar Mala’bi’.
Di sinilah letak peran Sipamandar. Bukan untuk menentang siapa, melainkan mengingatkan semua pihak pada janji awal yang pernah diucapkan bersama.
🔹 MENGINGATKAN KEMBALI PADA ATURAN YANG DILUPAKAN
Pertama, Sipamandar harus berani menjadi pengingat. Kita tidak memegang kekuasaan pemerintahan, namun kita memegang sejarah dan ingatan bersama.
Ketika Sidang Paripurna Istimewa peringatan HUT ke-22 ditiadakan dan diganti seremoni di Anjungan Pantai Manakarra — kita tegur. Bukan karena menolak pesta, melainkan karena menghormati proses kelahiran sendiri. Sulbar lahir dari ketukan palu di Sidang Paripurna DPR-RI. Maka suka cita rakyat pun wajib berakar di gedung wakil rakyat, bukan di panggung kekuasaan yang mengabaikan aturan.
Ketika daftar penyimpangan makin panjang — persekusi terhadap tokoh, mutasi yang diblokir BKN, pengangkatan kerabat yang tak memenuhi syarat, pinjaman ratusan miliar tanpa persetujuan DPRD, proses lelang yang masa sanggahnya hanya lima menit — kita tidak boleh diam. Diam dalam hal ketidakadilan sama dengan membiarkannya berlanjut.
🔹 MENAWARKAN JALAN KELUAR, BUKAN SEKADAR MENGKRITIK
Kedua, kritik tanpa gagasan hanyalah kemarahan. Gagasan tanpa tindakan hanyalah kata-kata. Maka Sipamandar harus menawarkan solusi yang nyata:
✅ Tegakkan aturan tanpa pandang pihak — Perda, UU, dan Tata Tertib DPRD berlaku sama untuk semua, tak boleh dipakai saat menguntungkan, dibuang saat tidak.
✅ Kembalikan kesakralan Sidang Paripurna — HUT Sulbar seharusnya berpusat di gedung perwakilan rakyat, bukan di panggung kekuasaan. Jika dilaksanakan di luar gedung, harus diputuskan bersama DPRD dan tetap berstatus Sidang Paripurna.
✅ Luruskan pelestarian budaya — Sandeq Race lahir dari keprihatinan masyarakat tanpa APBD, tujuannya menyelamatkan perahu yang nyaris punah. Kegiatan yang dibiayai negara wajib memprioritaskan pelestarian, bukan sekadar kemeriahan. Mengadopsi sistem tanpa mengakui asal-usulnya sama dengan menghapus sejarah perintisan.
✅ Kembalikan tokoh-tokoh perintis ke posisi yang layak — Dr. Farid Wadji, Suhamta, Muhammad, dan lainnya yang sejak awal berjuang tidak pantas diparkir atau digeser. Pengalaman dan kesetiaan mereka adalah modal terbesar Sulbar.
🔹 MEMPERBARUI DIRI — SIPAMANDAR DI ERA BARU
Ketiga, zaman telah berubah. Dulu suara kita menyebar dari mulut ke mulut, dari surat ke surat. Kini pesan harus menjangkau setiap sudut lewat saluran yang terbuka, cepat, dan luas.
✅ Bangun saluran informasi yang terbuka — tulisan, suara, siaran, media sosial, agar aspirasi tersebar luas dan transparan.
✅ Sederhanakan struktur — agar cepat bergerak, tidak terjebak rapat tanpa hasil. Fokus pada tindakan, bukan pada jabatan.
✅ Libatkan generasi muda — mereka bukan penerus nanti, mereka pengawal hari ini. Beri ruang agar mereka memahami sejarah dan ikut menjaganya.
✅ Jadilah pusat pemikiran — bukan sekadar menentang kebijakan, melainkan menawarkan arah pembangunan yang mandiri, adil, dan berkelanjutan.
🔹 PARTISIPAN, BUKAN PEMILIK
Keempat, kita tidak perlu saling berebut gelar “pejuang”. Sipamandar berarti Partisipan — setiap yang ikut serta, apa pun perannya, berharga. Yang membedakan bukan siapa yang datang duluan, melainkan siapa yang tetap setia pada tujuan bersama.
Sulbar bukan milik segelintir orang. Ia milik semua yang pernah berharap, berkorban, dan meneteskan air mata saat nama “Sulawesi Barat” akhirnya sah disebut.
📌 PENUTUP
Hadirin sekalian,
Forum Sipamandar hadir bukan untuk saling mengakui jasa. Ia hadir untuk saling mengingatkan janji. Sulbar Mala’bi’ — bersatu, adil, dihargai anak-anaknya sendiri. Itulah yang diperjuangkan dua puluh dua tahun lalu. Itulah yang wajib dijaga hari ini.
Mari kita tegakkan punggung. Bicara lantang. Dan tunjukkan: Partisipan Pembentukan Sulbar tidak akan diam melihatnya disimpangkan. Laut mengingat. Sejarah mencatat. Dan kita — yang pernah ikut melahirkan — tidak akan membiarkan perjuangan ini sia-sia.
Pambusuang 26 September 2026












